Saya sedang dalam perjalanan pulang setelah menyelesaikan satu semester lagi di Jakarta. Menyempatkan diri untuk singgah di kota Madiun dan berpindah ke kereta eksekutif, membuat saya punya keleluasaan untuk membuka komputer dan mengetik ini. Gerbong sepi, lansekap sawah sepanjang jalan pun tak terlihat bertepi.

 

Dada saya sesak, karena perasaan campur aduk antara ingin segera pulang dan tak rela meninggalkan pengalaman di belakang. Perasaan aneh ini adalah seperti ini ketika SMP, setelah jambore berhari-hari, menemukan teman baru berkali-kali, semakin akrab dari hari ke hari, lalu acara selesai, tiba-tiba saja pergi dan tak bertemu kembali.

 

Omong-omong, ini adalah percobaan saya untuk kembali menulis cerita, setelah lebih dari empat tahun tidak. Bahkan sepertinya saya pernah berjanji ke diri saya sendiri untuk tidak menulis cerita, untuk belajar menulis non-fiksi, tapi ternyata harus dipatahkan di sini. Alasannya ada dua. Satu, karena saya merasa pengalaman saya semester ini terlalu berharga untuk saya simpan sendiri –apalagi hikmahnya. Dua, karena saya terinspirasi oleh orang-orang yang saya temui di satu semester ini.

 

Orang-orang itu mendorong saya untuk menulis tanpa mengucapkan satu kata pun –agar saya menulis. Mereka melakukannya dengan tindakan, dengan banyak-banyak berdiskusi di depan muka saya. Di ruangan open space, saya biasa duduk berhadapan dengan orang-orang ini. Ketika salah satu dari mereka menemukan tulisan menarik, gagasan menarik, mereka membaginya, lalu diskusi hangat pun dimulai. Mereka sendiri juga aktif menulis. Lucunya adalah, saya diam saja bekerja di depan komputer dan pura-pura fokus, padahal saya mendengarkan setiap bit keseruan diskusi mereka.

 

Great minds talk about ideas, right? They do.

 

Pada akhirnya, orang-orang seperti itu lah yang mengembalikan kepercayaan diri saya untuk kembali berani menulis –setidaknya memulai. Karena ada masanya lingkungan lama begitu menakutkan sampai menulis saja pantang, lantas mengambil aman dengan sekadar menulis ulasan untuk memenuhi blog. Halaman note tempat saya mendaftar ide-ide tulisan pun semakin memanjang, tapi yang benar-benar ditulis tak satu paragraf pun memanjang. Semoga libur lebaran ini memberi saya energi untuk latihan menulis lagi. Bang Ucok, kak Lis, bang Sats, kak Megs, kalau kalian baca ini, hats off! Terima kasih sudah menginspirasi tanpa basa-basi.

***

 

“I hope everybody could get rich and famous and will have everything they ever dreamed of, so they will know that it’s not the answer.”

– Jim Carrey

 

Tentang Karir

Setelah menyelesaikan 2016 untuk studi programming dasar, desain, dan startup/bisnis, Januari 2017 saya berangkat ke Jakarta dengan dua misi: melanjutkan kuliah di UI dan bereksperimen tentang bidang karir yang tepat untuk mempertaruhkan sisa hidup saya di sana. Saya menggarisbawahi bagian kedua, sebab itu adalah hal yang agaknya sering tak mendapat banyak perhatian untuk beberapa orang yang saya kenal, dan juga banyak orang.

 

Kita mengerti bahwa setelah kita menyelesaikan pendidikan kita harus bekerja. Tapi saya pikir istilah “bekerja” membatasi pengertian yang seharusnya lebih luas. Kesannya, setelah kita diwajibkan untuk belajar di sekolah selama 12 – 16 tahun, kita harus menghabiskan tahun-tahun berikutnya dengan kewajiban lain, untuk bekerja. Padahal, makna yang seharusnya dibangun adalah bahwa pekerjaan yang kita ambil kelak adalah peran kita di masyarakat, dan bahwa pendidikan yang kita tempuh sebelumnya adalah segala kebutuhan yang diperlukan dalam mempersiapkan kita untuk itu. Bandingkan pemaknaannya seperti ini:

 

Tiga dialog di atas adalah percakapan asli, dan pertanyaannya benar-benar pernah saya ajukan ke beberapa orang yang berbeda. Maka saya selalu kagum dengan orang-orang idealis yang dalam setiap jawabannya punya sense of purpose. Mereka selfless. Tujuan hidup mereka jauh di atas kepentingan pribadi, dan hari-hari mereka bekerja punya makna lebih dari sekadar mengumpulkan materi dan hidup enak, tapi untuk membangun sesuatu yang lebih baik.

 

“If you make yourself more than just a man, if you devote yourself to an ideal, then you become something else entirely.”

“Which is?”

“A legend, Mr. Wayne.”

– Batman Begins (2005)

 

Saya belajar bahwa dalam memutuskan memilih karir setidaknya ada tiga hal penting yang perlu kita penuhi: (1) memberi kecukupan secara materi, (2) punya kontribusi untuk negeri, dan (3) mengembangkan pribadi.

 

Saya bersyukur kini ada tren di kalangan kita millenials, bahwa dalam menentukan profesi kelak kita harus menggunakan passion. Beramai-ramai kini banyak artikel dan konten-konten di seluruh internet tentang bagaimana kita memupuk passion dan mewujudkannya ke dalam pekerjaan impian. Seperti sebuah gerakan, tren itu mendorong anak muda untuk punya pertimbangan kedua dalam menentukan karir selain materi, yakni apakah pekerjaan itu sesuai passion, apakah pekerjaan itu mengembangkan dirinya secara pribadi.

 

Dari poin itu saja kita sudah berbeda dengan generasi orang tua kita. Masih sekitar tiga dekade lalu, sebelum ada ledakan informasi dan internet, pekerjaan terhormat bagi versi muda orang tua kita pada umumnya adalah birokrat dan bergabung dengan perusahaan besar. Nilai yang ditanamkan adalah bekerja dan raih jabatan tinggi. Desain pendidikan yang ditinggalkan dari masa itu pun kini masih tersisa, meski perlahan disesuaikan. Tapi kini kita beruntung pendidikan semakin terdemokratisasi, kita bisa belajar apapun hampir di mana pun, sehingga kita bisa jadi apapun.

 

Tapi dua poin itu saja belum cukup. Semata memilih karena materi dan minat diri adalah masih versi mementingkan pribadi. Saya tak menyebut itu keliru, hanya saja, coba bayangkan, apa bedanya kita dengan herbivora yang merumput jika setiap hari tujuan kita hidup adalah cuma untuk bertahan hidup. Setiap agama pun mengajarkan, contohnya Islam, bahwa hidup kita adalah untuk membangun masyarakat dan lingkungan. Kita hidup untuk memberi memberi makna pada hidup, yang mana caranya adalah dengan membuat lingkungan di sekitar kita punya kehidupan, tak hanya kita yang bisa hidup mapan.

 

Saya bangga dan kagum kepada teman-teman saya yang sudah lebih dulu lulus dan menemukan tempat mereka, berhasil memenuhi 3 kriteria karir impian. Contohnya ada yang menjadi guru, padahal semasa sekolah ia adalah salah satu yang terbaik di angkatan. Dengan bekal riwayat pendidikannya yang baik, sebenarnya bisa saja teman saya ini melamar ke tempat yang menawarkan gaji sangat tinggi, tapi ia memilih untuk menjadi seorang guru. Karena sekali lagi, materi bukanlah pertimbangan satu-satunya. Ia memilih itu karena di posisi itulah minat pendidikannya bisa disemai, dan di situlah dia paling bisa memberi kontribusi tertinggi, salah satunya dengan mulai membuka perpustakaan gratis.

 

Agar Tak Terlalu Naif dan Idealis

Hambatan yang muncul biasanya dua: belum menemukan minat yang kuat, dan/atau tak ada tawaran posisi yang ideal menjawab 3 kriteria sebelumnya. Masalah minat menjadi sepenuhnya masing-masing kita yang tahu, dan barangkali tulisan ini atau ini dapat memberi pencerahan. Tapi hambatan kedua sedikit berbeda. Jika soal minat solusinya adalah memahami diri, soal kedua solusinya adalah banyak-banyak eksplorasi.

 

Terlalu naif memang, jika setelah lulus nanti tiba-tiba kita mengharap posisi terbaik. Banyak teman-teman di angkatan atas saya yang selama mahasiswa idealis, rajin mengkritik ketimpangan sosial, tapi pasca lulus, pertimbangan materi adalah yang pertama.

 

Itu tak salah, karena hampir semua memang harus dimulai dari bawah. Posisi menjadi direktur, guru besar, penulis best-seller, maestro seni, pengusaha besar, pemimpin politik, tak akan datang dalam semalam kepada kita yang masih terlalu muda. Tapi kita bisa menjadi apapun dari pilihan itu semua jika kita merintis dari sekarang. Pak Jokowi muda juga tak langsung berkampanye jadi walikota Solo, apalagi Presiden, tapi memulai dengan menjadi pengusaha dan membangun karakter yang baik untuk jadi pemimpin. Maka tak masalah jika ketika lulus kita harus merelakan impian kita demi posisi yang sedikit pragmatis untuk mengawali karir, tapi yang jangan sampai diabaikan adalah jaga terus cita-cita tertinggi dan niat baik untuk membangun lingkungan, sebab itu yang mengarahkan akan jadi apa, dan akan berbuat apa kita.

***

 

Pemikiran seperti itu lah yang membuat saya sama sekali tak ingin main-main dengan pilihan profesi pertama saya setelah lulus. Karena bagaimanapun, itu akan menjadi riwayat kita seumur hidup. Di sana kita mempelajari banyak hal dan dipertemukan dengan orang-orang yang akan mempengaruhi ke arah mana jalan hidup kita berikutnya.

 

Saya tidak menutupi bahwa saya pun masih dalam proses meramu bentuk karir terbaik saya. Jika diibaratkan benih, sebagian teman saya sudah menemukan tanah yang tepat dan mulai merawat-tumbuh benih itu untuk jadi karir yang hebat. Tapi sebagian lain juga belum, atau tidak.

 

Sejak lama saya tahu bahwa bidang saya tak akan jauh-jauh dari pendidikan. Warna pendidikan apa yang saya maksud? Sempat saya dibuat jatuh cinta untuk mendalami politik, dengan keyakinan anak muda bahwa seseorang bisa bertahan bersih dan menjadi warna cerah di dunia politik –tapi berakhir menjadi korban organisasi berpolitik. Maka saya mendalami teknologi, bidang yang kini juga tak kalah hebat dari politik untuk membawa perubahan, yang beruntungnya juga adalah minat saya sejak kecil. Saya kagum bagaimana teknologi bisa mengubah wajah sosial dan ekonomi begitu cepat, seperti misal transportasi online, digital banking, crowdfunding, perpustakaan digital, hingga Arab Spring.

 

Jadi bisa dibilang, kata kunci cita-cita saya adalah pendidikan dan teknologi. Itu sebabnya saya menginvestasikan separuh waktu saya untuk mempelajari computer science thanks to 1/500 Indonesia Udacity Associate Developer Fast Track Scholarship, untuk mengikuti laju perkembangan programming dan otomasi yang akan menggempur Indonesia di tahun-tahun ke depan. Sedangkan separuh yang lain, jelas saya gunakan untuk melanjutkan kuliah, serta melibatkan diri dalam organisasi pendidikan.

 

Organisasi itu adalah Indonesia Mengajar.

 

Baca Bagian 2 – Pengajar Muda

Baca Bagian 3 – GIM