Temanku bilang, langit itu hidup.

Satu-satunya alasan kenapa ia berkata begitu,

adalah karena ia tidak melihat satu pun tanda,

bahwa langit itu sesuatu yang mati.

 

Beberapa tahun lalu, ketika aku masih sering bolos mengaji dan kabur dari rumah menjelang sore hari, aku dan beberapa temanku melewatkan detik pertama matahari mengangguk ke barat sampai ia berubah warna menjadi oranye dan tersungkur tidur digantikan jaga oleh bintang atau bulan, di pematang sawah. Sampai aku berpindah ke bangku SMP pun, tidak pernah tuntas aku menyusuri pematang sawah itu, sebab luas sekali! Mungkin itu juga kenapa cerita sore di sana tak pernah sama, seperti drama, banyak irama, memiliki rima, mencuri perhatian seksama, dan bagiku tak akan percuma.

 

Tiap sore itu, kami berangkat membawa sehelai sarung dan sebagian lain memakai peci yang dipasang melintang yang membuat pemakainya seperti membawa atap rumah gadang di atas kepala mereka. Meskipun tujuan kami ke sawah tiap sore itu adalah untuk bermain, kami telah dididik oleh guru ngaji dan orangtua kami untuk mengutamakan shalat. Untuk itu, begitu tiba di sawah menjelang Ashar, melewati pematang sawah kami berbaris lurus-lurus agar tak tercebur ke lumpur sawah, melepas baju menyisakan celana pendek, mencebur ke sungai, bermain air, lalu mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat Ashar bersama di saung sederhana di tengah sawah. Setelah itulah, “rutinitas” yang sebenarnya baru dimulai.

 

Kami (yang biasanya) bertujuh berpencar! Setelah melepas sarung dan peci, kami cepat-cepat keluar saung, mengambil “senjata” kami masing-masing. Sebagian temanku merangkak-rangkak di bawah kaki-kaki bambu saung, mengambil benang dan layang-layang yang ia sembunyikan di sana, sebagian yang lain ke belakang saung mengambil alat pancing sederhana yang mereka sembunyikan di sela tiang saung, lalu ada yang mencebur kembali ke sungai, sementara itu ada yang berjingkat-jingkat masuk ke dalam lumpur sawah dengan tangan kosong. Yang terakhir ini, mereka adalah kelompok yang penangkap belut, dan kalau beruntung mereka bisa pulang membawa 2 atau 3 belut hidup untuk membahagiakan ibu mereka di rumah karena membawa lauk untuk dijadikan makan malam. Sementara aku, aku masuk kelompok pertama: bermain layang-layang.

 

Tapi aku payah. Sementara teman-temanku yang lain menggunakan layang-layang hasil buatan tangan mereka sendiri, layang-layang yang kupakai waktu itu kubeli dari hasil satu hari sekolah tanpa jajan. Bukan hanya layang-layangku yang tidak “berseni”, tapi permainanku pun payah. Benang layangku menjadi yang paling pertama putus, dan itu pun bukan karena adu kuat dengan layang-layang yang lain. Yang lain tak mau melawanku karena terlalu mudah! Haha. Layang-layangku putus karena kesalahanku sendiri, yang membuatnya menukik turun, cepat, dan menyangkut di dalam hutan bambu yang mengelilingi 3 sisi sawah. Karena nyangkut dan tidak mungkin kuterbangkan, maka kuputuskan saja benang layangku, membuang begitu saja 20 meternya, padahal waktu itu benang layang sepanjang itu sangat bernilai bagi kami anak SD. Payah, hahaha.

*

 

Seperti biasa, aku pun menjadi pemain layang-layang pertama yang menggulung benang –tanpa layang-layang yang turun, dan kembali ke saung. Biasanya begitu aku tiba di saung sebagai pecundang layang pertama, aku akan duduk sendirian, melihat teman-temanku yang tersisa sedang seru bermain, berteriak-teriak, tertawa-tawa, atau bahkan saling meledek. Tapi aku tidak kecewa orang seperti ini di antara mereka yang seperti itu, karena bagiku melihat mereka teman-temanku bermain, sudah sama menyenangkan seperti aku masih ikut bermain di sana. Tapi kali ini di saung aku tidak sendiri.

 

Sambil berjalan mendekati saung, kulihat anak itu duduk di pinggir “teras” saung sambil memegang kertas putih polos seukuran buku tulis yang terbuka. Begitu dekat, kulihat ternyata itu sebuah buku gambar. Tadi ia terlihat menunduk dan sesekali mengangkat kepalanya untuk melihat sawah. Begitu aku mendekat, ia buru-buru menghentikan apa yang sedang ia gambar, menoleh padaku, mengangguk sambil sedikit tersenyum aneh –kusimpulkan itu karena ia masih canggung dengan teman asing.

 

Nggak melu layangan, tah?” tanyaku menggunakan bahasa Jawa, memang ini bahasa di antara kami, di rumah, atau kadang di sekolah.

 

“Enggak, saya tidak bisa, “ jawabnya dengan suara pelan. Jawaban itu membuatku menoleh lagi padanya. Bukan karena isi jawabannya, tapi karena bahasanya. Bahasa Indonesia lancar, tanpa logat Jawa kental seperti yang kami gunakan di sekolah, yang pasti membuat orang yang berbahasa Indonesia asli tertawa waktu mendengarnya. Sudah umum aku dan temanku tahu, ketika ada orang berbahasa seperti ini menjadi tetangga kami, pastilah ia “anak kota” yang baru pindah ke desa kami.

 

Maka kujawab, “Ooh..” tanpa meneruskan. Sebenarnya jawaban seperti itu tadi biasanya kujawab panjang, seperti “kenapa nggak ikut ke sana? Biar diajarin. Aku dulu juga awalnya nggak bisa, tapi karena sering liat dan belajar, akhirnya bisa juga sedikit-sedikit. Tapi (dan seterusnya).” Cerewet. Jawaban “oh” singkat itu lebih karena anak ini belum kukenal, dan aku yang waktu itu sangat jarang menggunakan bahasa Indonesia selain kepada guru-guru di sekolah. Dan dari menolehku barusan, aku ingat anak ini. Anak yang tadi kami jemput paling terakhir untuk berangkat kemari, di rumah yang biasanya rumah kosong, berjalan paling belakang ketika kami berbaris di pematang sawah, dan hanya mengambil wudhu tanpa ikut menceburkan diri di sungai. “Pantas aku tadi seperti tidak melihat anak ini,” kataku dalam hati. Aku juga sempat melihat wajahnya, tidak seperti kami yang lusuh karena sering bermain di tanah, wajahnya bersih seperti jarang keluar rumah. Baju bermainnya pun bersih, tidak kumal seperti milik kami. Memang bukan tipikal anak yang biasa hidup seperti kami.

 

Pura-pura tidak memperhatikan, sebenarnya aku tahu ia hendak melanjutkan gambarannya  tadi, tapi ia hanya memain-mainkan pensilnya di tangan kanan sambil melihat sawah tanpa arti. Dan didorong oleh cerewetku yang tidak bisa ditahan, menyingkirkan rasa aneh menggunakan bahasa Indonesia waktu bermain seperti ini, aku, “Kenapa tidak dilanjutkan menggambarnya?” Bahasa Indonesia aneh karena ketidakbiasaan, dan tidak mengerti bahwa dalam konteks seperti ini seharusnya cukup bilang, “Kenapa gambarnya nggak dilanjutin?” Haha.

 

Ia tampak gelisah, tapi kata-kataku seperti menjauhkannya dari itu, dan menjawab, “Oh iya.”

 

Aku tahu dari wajahnya, sebenarnya ia ingin menjawab lebih, tapi ada sesuatu yang menghentikannya. Aku pun yang terbiasa banyak bicara, tidak puas dengan jawaban seperti itu. Rasanya seperti menjadi orang yang tidak diperhatikan, atau orang itu yang sombong. Tapi hal kedua, kurasa bukan dirinya waktu itu. Maka aku memulai sesuatu yang lain, “Perkenalkan, nama saya Ihan,” sambil mengulurkan tangan. Masih dengan bahasa Indonesia aneh, dan akan terus begitu sampai sore ini berakhir.

 

Ia menyambut tanganku, dan berkata, “Saya Ilham.”

 

Masih datar, maka kulanjutkan, mencoba bercanda, “Wah, nama kita hampir sama ya!”

 

“Iya.”

 

Masih tetap. “Tapi kalau di rumah, saya biasa dipanggil Bagong!” kataku lalu memperlihatkan gigi-gigi depanku yang tidak seputih miliknya.

 

Dia menoleh. “Berhasil!” dalam hatiku. “Kok, bisa dipanggil Bagong?”

 

“Yess!” kulanjutkan dalam hati. Akhirnya berhasil! Sebab tanda seseorang telah cair adalah ia menanyakan atau merespon sesuatu dengan kalimat yang cukup panjang, pikirku. Lalu kujawab, “Karena sejak bayi sampai menjelang kelas 1 SD, saya ini sebenarnya anak yang sangat gendut! Gendut sekali!” kataku sambil memeragakan perut gendut dengan dua tangan terbuka lebar di depan perut.

 

“Hahahaha..” untuk pertama kali, yang seharusnya selalu terjadi sejak tadi jika aku berbicara dengan temanku yang lain, kami tertawa.

*

 

Setelah itu, perkenalan di antara kami pun berlanjut dengan saling bercerita. Meskipun sebenarnya aku yang lebih banyak bercerita dan dia hanya menjawab pertanyaan-pertanyaanku, menurutku itu sudah cukup. Aku menjelaskan padanya bahwa Bagong itu merupakan nama salah satu karakter wayang yang memiliki tubuh pendek, hitam dan perutnya sangat buncit. Aku menceritakan di mana aku bersekolah, bagaimana bersekolah di sana, kebiasaan bermain kami, dan lain sebagainya. Ia pun menjawab pertanyaan-pertanyaanku, yang membuatku tahu bahwa anak ini bukan anak kota yang sedang berlibur seperti beberapa yang pernah kukenal sebelumnya, yang hanya menjadi tetangga kami selama beberapa minggu lalu pergi, tapi ia adalah anak kota yang rumahnya pindah ke desa kami. Ia memberitahuku, rumahnya sebelumnya berada di Bandung, lalu aku menjawab dengan semangat bahwa aku sangat mengenal kota itu, yaitu dari lagu Kereta Api yang biasa kunyanyikan ketika TK, yang kemudian membuatnya tertawa tapi aku tidak.

 

Cerita-cerita kami membuat kami tidak sadar bahwa sawah semakin ramai, dengan kedatangan kelompok-kelompok main dari RT atau RW lain, yang masing-masing membawa layang-layang atau alat pancing mereka masing-masing, lalu bergabung dengan kelompok kami yang tiba lebih awal. Yang menyadarkan kami adalah langit sudah terlalu oranye gelap dan burung-burung di dalam hutan bambu yang mulai ramai berkicau, menandakan kami harus tiba di rumah sebelum adzan magrib berkumandang dan setan-setan serta jin berkeliaran menjahili anak-anak seperti kami.

 

Dalam perjalanan pulang, sambil berjingkat-jingkat menenteng sandal agar tidak terkena lumpur tebal di pematang sawah, aku mengingat-ingat nama anak itu tadi, karena terlalu banyak bercerita membuat hal pertama malah sering dilupakan. “Ilham. Mudah diingat karena namanya mirip namaku,” kataku dalam hati. Tetangga baru, itu artinya teman baru.

 

Lalu kamera yang menyorot kami dari samping, menampilkan kami berbaris lurus, berjalan dengan memiringkan badan ke kiri dan kanan untuk menjaga keseimbangan, di atas lumpur liat, di bawah langit sore. Kamera mulai menjauh dan naik, membuat kami semakin terlihat kecil di antara sawah yang luas, segaris di antara kotak-kotak garis petak sawah. Lalu kamera menengadah, memperlihatkan langit oranye, mega, lalu matahari tenggelam. Bulan Baru telah muncul.

 

***

 

Tiga hari kemudian, Senin, adalah hari pertama semester 5. Itu artinya, kini aku sudah kelas 3 SD. Tidak ada yang berbeda dengan awal semester seperti sebelum-sebelumnya, hanya sekolah Senin yang pagi harinya sedikit bertambah “panjang” sebab setelah upacara bendera banyak sekali pengumuman. Pembagian ruang kelas, pengumuman wali kelas, sistem-sistem baru, dan lain sebagainya yang aku lupa. Setelah mendapatkan ruang kelas yang dimaksud, ternyata kelasku sudah penuh, sebab anak-anak yang lain sudah cepat-cepat datang untuk mengklaim bangku mereka untuk 1 semester kemudian. Sayangnya aku bukan tipikal seperti itu, maka tiba terakhir pun tidak masalah. Dan ternyata bangku yang tersisa adalah bangku di ruas tengah dan baris terdepan. Bagus sekali!

 

Kugantungkan tasku di sandaran bangku, mengeluarkan buku tulis dan kotak pensil, meletakkannya di atas meja. “Meja ini untuk berdua, seharusnya di di sebelahku ada seorang lagi,” batinku. Aku melihat sekeliling kelas, ramai sekali, sekelas sedang ramai membicarakan liburan, ada yang sambil duduk, berdiri, tapi tidak k Kulihat seseorang yang tasnya masih di punggung tanda belum mendapat tempat duduk. Meskipun kelas 3A ini adalah kelas baru hasil dari pengacakan ulang siswa-siswi dari kelas 2 sebelumnya, aku tidak melihat wajah baru, sebab SD seperti sekolahku tidak memungkinkan seseorang tidak mengenal sesamanya dalam satu angkatan. Maksudku, SD-ku adalah sekolah kecil, yang tiap angkatan hanya terdiri dari 2 sekolah.

 

Tapi sepertinya aku salah. Aku melihat wajah baru! Wajah yang baru saja kulihat 3 hari lalu. Berdiri di ambang pintu kelas, menoleh-noleh, tapi seperti ragu untuk melangkah masuk atau tidak. Berhubung bangku di sebelahku masih kosong dan aku tidak biasa mempermasalahkan siapa teman sebangkuku, cepat aku berteriak, “Ham! Woy!” Aku berteriak semangat sekali sambil melambaikan tangan sampai berdiri. Sampai tidak kuperhatikan bahwa teman-teman yang tadinya hiruk pikuk langsung terdiam memandangku, yang karena melihatku sedang melambai kepada orang di pintu, bersamaan pula kemudian mereka mengarahkan pandangan ke pintu.

 

Untungnya aku tidak salah menarik perhatian –hanya berlebihan dalam menarik perhatian, sebab Ilham ternyata melihatku, dan ekspresinya langsung berubah, tidak lagi ekspresi kikuk anak asing. Kuduga ekspresi baru itu merupakan ekspresi anak asing tak memiliki teman yang mendapati dirinya salah sebab di tempat asing ia ternyata masih ada yang mengenalinya. Tegap, kemudian ia berjalan mendatangi bangku yang kutunjuk. Aneh, kuperhatikan diamnya kelas gara-gara teriakanku tadi berubah menjadi bisik-bisik, yang semakin lama semakin keras seiring Ilham yang berjalan canggung melewati anak-anak yang lain menuju bangku di sebelahku. Aku tahu bisik-bisik itu pasti tentang anak baru yang masuk ke sekolah kami, tapi belakangan aku tahu aku salah, sebab bisik-bisik itu ternyata adalah karena Ilham si anak baru ini begitu tampan di mata anak-anak perempuan di kelasku. Saat itu pun baru aku sadar, bahwa anak perempuan kelasku memang benar, Ilham adalah tipikal anak yang akan membuat siapapun yang melihatnya menyimpulkan bahwa ia adalah ganteng.

 

Di antara anak-anak desa yang hanya mengenal sabun, pasta gigi dan shampo sebagai alat kebersihan tubuh ini, Ilham tampil sebagai anak yang jauh terlihat lebih “bersih” di antara kami, dengan kulit putih, rambut hitam berkilat yang belakangan aku tahu tiap hari yang ia gunakan untuk itu adalah minyak rambut, tinggi di atas rata-rata, dan yang paling penting: wajah tampan. Itu semua menjadikan ia seperti bersinar di antara seluruh anak laki-laki di kelasku, bahkan di sekolahku. Bahkan, seragamnya yang masih baru, kemeja putih bersih dan celana yang masih cerah, membuat benar-benar bersinar dalam arti harfiah di antara kelas 2 sampai kelas 6 yang warna seragamnya sudah mulai pudar.

 

Kutebak dengan mudah, bahwa anak ini akan sama terkenalnya dengan kepala sekolah, bahkan lebih cepat dari pengumuman jadwal Ujian Akhir Semester di kelas-kelas. Aku baru saja mendudukkan diri sebagai teman bintang sekolah. Ini masalah!

*

 

Mengabaikan pikiran aneh itu, pelajaran pun dimulai. Pelajaran kesenian. Setelah membuka kelas singkat, dan ditambah dengan perkenalan sebagai guru baru yang akan mengajar Kesenian di kelas kami selama satu semester berikutnya, Bu Guru membagi kami masing-masing 1 lembar kertas gambar A3, kemudian kembali berdiri di depan kelas dan memberi pengarahan, “Anak-anak, di hari pertama tahun ajaran baru ini, Ibu tidak akan memberi pelajaran. Urusan itu nanti saja.” katanya sambil tersenyum, lalu melanjutkan, “Apalagi ini pelajaran Kesenian. Ibu hanya minta kalian menggambar sesuatu di kertas yang sudah Ibu bagikan. Bebas!”

 

Kemudian ia menulis besar-besar di papan tulis: LIBURAN. Lalu melanjutkan, “Temanya adalah Liburan. Mungkin di kelas Bahasa Indonesia kalian akan diminta menuliskan liburan, tapi di sini yang kalian lakukan cukup menggambar. Bebas, tentang apa saja di liburan kalian sebelum masuk di kelas baru ini. Mudah, bukan?” Tersenyum lagi, lalu mengakhiri, “Mengerti?”

 

“Mengerti, Buuu…” jawab kami sekelas bersamaan.

 

Beberapa menit kemudian, hampir semua kepala di kelas kami menunduk ke meja masing-masing, bahkan Ibu Guru pun ikutan menunduk, yang belakangan kutahu karena waktu itu ia membaca koran. Kusebut hampir semua, karena sebagian yang lain tidak menunduk tetapi mendongak ke sana kemari, gelisah, yang kupikir itu karena mereka tidak punya ide, atau mereka tidak memiliki liburan? Mustahil.

 

Pelajaran Kesenian ini akan berlangsung selama satu setengah jam. Sekarang sudah satu jam berlalu, dan gambarku kira-kira sudah 60% selesai. Yang coba kugambar adalah gambar sawah dengan latar belakang langit senja dengan beberapa anak berdiri dan garis tipis naik dari mereka menuju langit dan menampakkan sekotak kecil layang-layang sedang bersaing terbang. Aku berhenti sebab pensilku sudah tak layak pakai, kira-kira hanya tinggal setengah panjang telunjukku. Sebelum mencari pensil lain di kotak pensilku, kucoba menoleh pekerjaan teman-temanku, kemudian kudapati gambar gunung, pantai, rumah, jalan panjang, kota, bahkan kamar. Wah, teman-temanku tidak kalah bagus dalam menggambar. Kemudian aku berbalik menoleh ke kanan, ke arah Ilham, dan aku mendapati kertas gambarnya masih putih bersih.

*

 

Gigi atasnya menggigit bibir bawahnya, ia tampak seperti takut. Apakah itu ekspresi hampir menangis? Aku tidak tahu.

 

Kuberanikan bertanya, “Kenapa tidak menggambar, Ham?”

 

Perlahan ia menoleh, dan kulihat memang matanya sedikit berkaca-kaca. Aku tidak tahu harus bagaimana, tapi ia menjawab sambil sedikit terbatas, “Pensilku. Pensilku tertinggal rumah. Di sekolahku yang lama, hari pertama kelas baru biasanya tidak ada pelajaran, hanya ada upacara dan pengarahan wali kelas. Aku tidak tahu kalau hari pertama di sini akan langsung ada pelajaran penuh.”

 

Itu adalah kata-kata terpanjang Ilham yang pernah kudengar –aku baru mengenalnya 3 hari. Tanpa putus. Belakangan, itu seharusnya membuatku sadar dan berempati bahwa selama 1 jam pelajaran ia bingung bukan kepalang memikirkan dirinya yang masih terdiam sementara yang lain sudah menggambar bermacam-macam. Belakangan pula aku tahu, waktu itu ia enggan berbicara sebab merasa belum mengenal satu pun anak di kelas, bahkan ia tak berani menggangguku karena ia pikir aku sedang menggambar dan tidak ingin diganggu.

 

Karena jawaban itu, aku pun menjawab, “Oh,, jangan khawatir. Saya punya pensil lagi. Saya pinjami!” Kataku bersemangat, dengan bahasa Indonesia yang lebih terbiasa –karena di sekolah.

 

Lalu kubuka kotak pensilku, tetapi aku hanya menemukan pensil yang sama dengan milikku sekarang. Sial, yang kusimpan di kotak pensilku adalah sisa-sisa pensilku sebelumnya! Hanya pensil seukuran kelingking-kelingking kaki, mana mungkin kupinjamkan pada Ilham. Sementara aku sendiri butuh pensil baru. Dan aku terlanjur mengatakan pada Ilham untuk meminjaminya sebuah. Aku sudah berjanji! Di sinilah aku mulai sadar, bahwa kebiasaan anehku adalah selalu gelisah ketika mendekati waktu janji, aku hampir tidak mampu memenuhinya. Aku selalu gelisah tak karuan. Dan 10 tahun kemudian, aku menyebutnya sebagai: janji anak kecil.

 

Aku tidak menyerah, kukeluarkan satu per satu isi kotak pensilku, yang membuat Ilham terheran-heran. Lalu di bagian dasar kotak pensilku yang terbuat dari plastik, kudapati plastik tipis menutupi sebatang kayu seukuran pensil. Ketika kulihat lebih jelas, ternyata memang benar, itu pensil yang direkatkan di bagian dasar kotak pensilku dengan selotip. “Kenapa ada pensil di sini dan dipasang seperti ini dalam kotak pensilku?” kataku dalam hati.

 

Terdesak, aku pun melepas selotip itu dari tempatnya, dan mengambil pensil itu. Karena tersimpan rapat seperti itu, pensil itu masih tampak baru dan bersih. Ujungnya pun masih belum terpaut. Benar, pensil baru! Kulihat lagi kotak pensilku, sekarang benar-benar kosong. Berarti pensilku tinggal satu ini, sementara aku butuh, sementara aku sudah berjanji kepada Ilham untuk meminjaminya sebuah.

 

Sekilas.

 

Lalu aku berkata, “Ini. Tapi raut dulu ya! Pakai rautan saya yang ini. Kalau butuh penghapus, pakai punya saya saja. Kalau penghapus ‘kan bisa dipakai berdua, hehe.” Aku berkata begitu sambil mengulurkan pensil, rautan dan penghapus berurutan, meletakkannya ke tangan Ilham dan ke dekat kertas gambarnya.

 

Dia tersenyum, “Terima kasih.” Lalu mulai meraut pensil itu cepat-cepat, dan memulai gambarnya.

*

 

30 menit kemudian, bel pergantian jam berbunyi. Bu Guru memberi tahu kami untuk mengakhiri pekerjaan kami dan mengumpulkannya di meja guru. Kutatap kertas gambarku. Entah kenapa, aku puas dengan gambar-60%-jadi-ku ini. Yang pasti, bukan puas karena menyelesaikan gambar yang hanya 60% rampung, tapi puas karena alasan yang tidak bisa kujelaskan. 30 menit yang lalu, setelah menyerahkan pensil utuhku pada Ilham dan melihatnya tersenyum lalu menggambar dengan penuh semangat, aku diam beberapa saat melihat gambarku sendiri yang masih kasar. 30 menit kemudian, aku hanya memberi warna tipis-tipis pada bagian-bagian gambarku. Pada langit, pada sawah, pada bambu.

 

Tiba-tiba terdengar suara bersemangat, “Selesai!”

 

Ternyata itu Ilham. Kulihat ia begitu senang, memegang kertas gambarnya dengan kedua tangannya, dan mengangkatnya setinggi dada. Itu pertama kalinya kulihat Ilham tersenyum lebar dan gembira. “Boleh saya lihat?” tanyaku.

 

Terlihat ragu sebentar, tapi ia lalu mengarahkan kertasnya menghadap padaku. Kulihat pemandangan yang sama sekali tak asing. Sawah hijau, langit oranye, bambu-bambu teduh, anak bermain, saung mungil, sungai mengalir. Tapi ia menggambarkannya dengan begitu nyata! Nyata, benar-benar seakan aku melihat pemandangan itu dalam keadaan aslinya! Luar biasa.

 

“Bagus sekali!” seruku tulus.

 

“Terima kasih.”

 

Belum sempat aku melanjutkan pujianku, Bu Guru mendatangi kami dan mengambil kedua kertas gambar kami, “Sudah selesai, Anak-Anak? Bisa Ibu ambil, pekerjaan kalian?” Dan belum sempat kembali ke pujianku pada Ilham setelah itu, guru pelajaran kedua sudah membuka kelas dengan salam. Kami pun kembali duduk rapi di tempat masing-masing. Diam. Menunggu bel istirahat.

 

***

 

“Ini, saya kembalikan. Terima kasih ya, Han!” kata Ilham sambil mengulurkan pensilku tadi padaku.

 

Kulihat tangan dengan pensil itu, lalu ke wajah putih Ilham. “Untuk Ilham saja!” kataku mantap.

 

Dia ragu, sudah biasa. “Tapi..”

 

Sok meyakinkan, aku bicara asal, “Sudaah, tidak apa-apaa. Yang meraut pensil itu ‘kan kamu, jadi kamu yang menggunakan. Sampai habis! Saya tadi lihat gambar Ilham bagus sekali. Saya pikir pensil itu akan senang kalau dia bisa menghasilkan gambar-gambar yang bagus dan indah seperti gambar ilham tadi. Yaa? Janji! Gunakan tiap sentimeter dari pensil itu untuk membuat gambar-gambar yang bagus dan indah!”

 

Dia diam. Terlihat berpikir.

 

“Janji yaa?” kataku menegaskan.

 

“Hm! Janji” jawabnya yakin sambil mengangguk kuat

 

Aku puas. Tapi lalu Ilham melanjutkan, “Saya memang suka menggambar. Kalau Ihan, juga suka? Atau punya kesukaan lain?”

 

Aku bingung, karena waktu itu sepertinya aku memiliki banyak kesukaan. “Apa ya? Menonton TV, main PS, membaca buku, hehe. Oh iya, sama kadang-kadang menulis!” Jawabku.

 

“Wah, hebat! Hobinya banyak!”

 

“Hahaha,” kami tertawa bersama. Tawa itu berlanjut ke luar kelas, ke kantin, ke perpustakaan, ke musholla, ke ruang komputer, dan kelas-kelas lain. Sebab setelah dua jam pelajaran pertama itu, aku mengajaknya berkeliling sekolah dan mengenalkannya pada tiap bagian sekolahku. Sekolah barunya.

 

***

 

Pembaca, aku berbohong pada kalian.

“Sekilas” tadi sama sekali tidak sekilas. Ihan tidak se-sekilas itu memikirkan dilema antara pensil untuknya atau untuk Ilham, sebelum memutuskan menyerahkan pensil itu pada Ilham. “Sekilas” tadi punya cerita, ceritanya seperti ini:

 

Lebih dari 2 tahun sebelumnya, Ihan TK menjadi anak kecil yang diikutkan oleh TK-nya untuk mengikuti lomba menggambar di kota. Ihan kecil takut sekali karena itu. Bukan karena harus pergi ke kota, bukan karena harus berlomba, bukan karena harus meninggalkan TK-nya, tapi ia takut karena tidak terbiasa menggambar di tengah-tengah orang banyak. Ia hanya bisa menggambar, jika sendirian.

 

Hari perlombaan pun tiba, Ihan dengan ratusan anak yang lain dari berbagai TK berkumpul di aula besar, sementara guru-guru pendamping berkumpul di luar “arena” menggambar, meneriakkan berbagai kata semangat yang saat itu justru membuat Ihan takut. Waktu menggambar 2 jam, dan 1 jam pertama Ihan terus dilanda rasa takutnya. Sampai akhirnya, ia pun menangis tersendu.

 

Ihan takut, takut dan takut. Gambar hanya bisa lahir dari tangannya ketika ia sendiri di kamarnya, bukan di ruangan menakutkan dan orang-orang membingungkan seperti itu! Lalu tiba-tiba seorang ibu menghampiri Ihan, ibu ramah yang bajunya seragam dengan ibu-ibu yang lain yang mengawasi Ihan dan yang lain di dalam “arena” dan mengenakan gantungan tanda pengenal. “Adek kenapa?” tanyanya ramah.

 

Berusaha menghentikan tangisnya, Ihan menjawab sambil tetap sesenggukan, “Ihan takut.”

 

Ibu itu pun berusaha menenangkan Ihan. Mencoba bercerita, dan mendorong Ihan untuk menggambar, apapun yang bisa Ihan gambar. Tapi Ihan tak bergeming. Ia tetap tidak bisa menggambar, tetap takut. Ibu itu pun berusaha meyakinkan Ihan bahwa anak-anak lain juga sama seperti Ihan, teman yang sama-sama suka menggambar. Sementara ibu-ibu yang berada di luar adalah penyemangat Ihan dan teman-temannya. Cerita itu sedikit menenangkan Ihan.

 

Lalu sebelum ibu tadi meninggalkan Ihan untuk mengawasi peserta yang lain, Ibu itu mengambil sebuah pensil dari saku bajunya, menggenggamkan dalam tangan kecil Ihan, dan berkata, “Ini, ibu beri Ihan pensil ajaib. Pensil ini bisa menggambar apapun yang Ihan mau, tapi dengan satu syarat: Ihan tidak boleh takut.” Katanya tersenyum.

 

“Apapun?” tanya Ihan.

 

“Iya, apa saja yang Ihan inginkan untuk menjadi gambar, bisa diwujudkan dengan pensil ini, asalkan Ihan memenuhi syarat yang tadi. Ihan tidak boleh takut lagi atau menangis. Jadi, sekarang Ihan mau menggambar?”

 

“Hm!” Ihan mengangguk. Ibu tadi pun berdiri lalu berjalan lagi ke arah anak-anak yang lain. Ihan melihat pensil utuh di tangan kanannya, lalu ia masukkan ke kotak pensilnya. Lalu ia mulai menggambar dengan pensil yang sudah siap di atas kertas gambarnya sejak tadi.

*

 

Begitu tiba di rumah, Ihan mencari selotip dan merekatkan pensil itu di dasar kotak pensilnya. Kemudian memasukkan banyak alat tulisnya ke dalam kotak pensil itu. Harapan Ihan, hanya agar pensil pemberian itu tidak hilang. Setelah semua rapi, Ihan lalu meletakkan kotak pensil itu di sebelah piala bertuliskan: Juara III Lomba Menggambar Peringatan Hari Ibu.

 

***

 

10 tahun setelah hari pertama Ilham masuk di SD yang sama dengan Ihan.

Desember 2013.

 

Aku sedang membaca Supernova 2.3: Partikel, yang kubeli karena kebohongan kecil pada seseorang, ketika tiba-tiba bel rumah berbunyi dan seseorang berseru, “Pakeet!”

 

Segera aku keluar dan menerima petugas paket itu. Setelah beberapa kali tanda tangan, petugas itu menyerahkan sebuah map cokelat cukup tebal. Kuraba, sepertinya isinya hanya kertas, lalu kubawa masuk ke ruang tamu. Ketika kubuka dengan merobek bagian atasnya, selembar kertas yang berada paling atas jatuh, tapi kupungut belakangan setelah kutarik keluar isi map itu, dan meletakkannya di bagian paling belakang urutan kertas-kertas ini. Kuamati sekilas, map ini berisi berlembar-lembar kertas gambar ukuran A3 yang dilipat rapi, dan 2 lembar kertas binder bertulisan tangan. Kuraih lembar kertas surat pertama, dan terbaca:

 

Han, masih ingat aku? Teman sebangkumu dari kelas 3 sampai kelas 6. Maaf, aku tidak memberitahumu ke mana aku pergi tepat sehari setelah wisuda SD kita. Orang tuaku harus segera pindah karena tugas dinas ayah mendesak. Andai 10 tahun lalu kita sudah seperti anak SD sekarang, sudah punya Facebook, ponsel, mungkin kita tetap bisa saling menghubungi. Aku pun tidak tahu dan tidak sempat bertanya alamat rumahmu untuk berkirim surat. Aku coba bertanya pada Ayah, tetapi ia tidak mengenal alamat orangtuamu, maksudku rumahmu, sebab blok rumah kita terpisah cukup jauh. Album kenangan pun aku tidak punya, karena buku itu baru dibagikan jauh hari setelah wisuda kita. Aku yang SMP pun tidak cukup cerdas untuk punya ide menanyakan alamatmu pada SD kita. Maaf, aku menceritakan ini hanya untuk menjelaskan padamu bahwa aku sama sekali tidak berniat meninggalkanmu dan yang lain tanpa berpamitan. Aku cuma ingin kalian tahu kalau selama 6 tahun ini selalu berusaha menghubungimu dan yang lain. Aku minta maaf.

 

Lewat internet pun aku tidak ketinggalan, kugunakan banyak-banyak media sosial untuk mencari namamu. Tapi benar-benar tidak ketemu. Baru kemudian, di koran minggu pagi beberapa hari lalu aku tidak sengaja membaca halaman cerpen, dan membaca nama yang mirip namamu tercantum di bagian nama pengarangnya. Setelah kuhubungi redaksi dan menanyakan identitas lengkap pengarang cerpen itu, barulah aku yakin aku sudah menemukan teman yang lama kucari-cari. Setelah tahu alamatmu, buru-buru aku menyusun ini semua, menulis surat cepat-cepat dan mengirimkan semua yang ada dalam map yang kau pegang ini. Oh iya, aku bangga sekali kamu sudah berhasil dengan hobi menulis yang sempat kamu ceritakan padaku dulu. Selamat ya! 

 

Tujuanku mengirim surat ini cuma satu. Aku mau membayar lunas hutangku. Ingat, waktu kamu bilang “gunakan tiap sentimeter dari pensil itu untuk membuat gambar-gambar yang bagus dan indah!”? yang waktu itu kau katakan dengan Bahasa Indonesia yang sok lancar padahal logat Jawanya bikin perutku mual? Haha. Sudah kupenuhi! Lembar-lembar besar yang membuat map ini berat adalah berlembar-lembar kertas gambar yang masing-masing lembarnya kugambar dengan pensil pemberianmu. 1 sentimeter 1 gambar! 😀

 

Maaf kalau jelek, tapi aku sudah berusaha. Apalagi dengan “paksaanmu” yang mengharuskanku menggambar dengan tiap sentimeter batang pensil ini. Karena begitu tersisa kurang dari 5 senti, sulit sekali digunakan untuk menggambar. Tapi aku tetap berusaha. Tapi akhirnya menyerah juga waktu pensil ini hanya tersisa satu sentimeter. Karena tak ingin membuangnya, maka kubuat gantungan kunci saja. Kamu simpan 17 cm dari pensilnya yang sudah jadi gambar itu, aku simpan sisa 1 cm-nya di gantungan kunci ini!

 

Terakhir, di bawah ada alamat emailku. Kontak ya! 

*

 

Aku hanya diam.

Lebih karena memang tidak bisa berkata apa-apa daripada apapun. Aku hanya menggenggam erat kertas yang baru saja kubaca. Mengingat bahwa aku pernah satu SD dengan anak bernama Ilham, wisuda bersama, lalu 6 tahun yang lebih banyak datar-datar saja tanpa ingatan SD itu. Datangnya surat ini di siang hari seperti ini benar-benar seperti sengatan listrik dalam air! Mengguncang, dan membuat jantungmu seperti tak mau berdegub.

 

Aku pun tak menyalahkan Ilham karena kepergiannya yang tanpa kabar 6 tahun lalu, aku hanya  berpikir dia pasti punya penjelasan, hanya saja juga pasti tidak sempat menjelaskan. Aku tidak pernah berpikir buruk tentangnya.

 

Lalu hal kedua yang membingungkanku juga adalah, jika benar dia mengirimkan paket ini segera setelah cerpenku dimuat di surat kabar minggu, seharusnya paket ini tiba dari setahun yang lalu. Sebab cerpen yang ia maksud itu dimuat setahun lalu, dan pernah lagi ada tulisanku yang dimuat surat kabar setelah atau sebelum itu. Kenapa baru tiba sekarang? Satu tahun kemudian? Enggan memikirkan lebih jauh, ditambah penasaran untuk mengetahui bagian lain dari paket ini, aku membuka lipatan tebal kertas-kertas gambar di dalamnya. Kuhitung, total ada 17 lembar. Di masing-masing lembarnya, di baliknya tertulis tanggal dan tempat menggambarnya, serta catatan kecil: 18 Sentimeter, 17 Sentimeter, hitung mundur sampai 2 Sentimeter. Kupandangi satu persatu gambar dalam kertas besar itu.

 

18 Sentimeter

Sentimeter pertama. Gambar pertama