Gunung Arjuno. 12-14 Januari 2015.

3339 meter di atas permukaan air laut.

Dari sudut lembah hingga di atas awan.

Dikelilingi pemandangan indah luar biasa.

 

Kau mungkin tak akan percaya apa yang bisa kulihat dari atas sini ketika menulis surat ini sekarang, sebab surat ini kusempatkan kutulis di banyak ragam waktu dan pemandangan luar biasa. Di pagi hari di sela sarapan, ketika udara begitu basah dan napas seperti mendesah, kabut putih pekat berangsur memudar dan menampakkan segala bentuk  kehidupan yang ada di bawah ketinggian ini; membuat jarak pandang begitu jauh seakan-akan aku bisa melihat segalanya dari sini –dari pedesaan dengan rumah-rumah mungil tepat di lembah gunung, rapatnya perkotaan di kejauhan, arus padat lalu lintas kendaraan yang terlihat begitu kecil hingga seperti bongkahan sel-sel darah yang mengalir di guratan nadi, hingga ujung cakrawala berupa biru laut bertemu biru langit bertemu.

 

Lalu di siang hari di tengah istirahat perjalanan panjang yang melelahkan, surat ini kutulis dengan iringan suara-suara hutan yang yang saling  bersahutan, begitu kuat jika cukup cermat mendengar, hingga seperti ada pertunjukan musik orkestra yang sedang berlangsung seru; derik serangga-serangga menjadi bunyi-bunyi petikan senar, siulan burung-burung sebagai alat musik tiup, hingga deru angin yang naik dan menuruni lereng seperti bunyi pemusik gesek, bersama dengan suara aliran air sungai dan desis sentuhan berjuta-juta daun; semuanya memperdengarkan satu kesatuan musik yang tak akan pernah bisa ditemukan secara langsung selain di tempat seperti ini.

 

Puncaknya adalah di malam hari. Di penghujung perjalanan sehari penuh setelah mendirikan tenda, sekali lagi pemandangan ‘peradaban’ di bawah sana terlihat. Tetapi kali ini dalam rupa jutaan cahaya yang manusia nyalakan di malam hari. Memang menyulitkan, menulis di tengah gelap hutan seperti ini, tetapi mengetahui bahwa di bawah sana seperti ada jutaan lilin yang dinyalakan khusus untuk menerangiku menulis di carikan kertas kusut ini, membuatku merasa tenang. Dan aku jadi berpikir:

 

Orang-orang di bawah sana mungkin tak sadar, selama bertahun-tahun mereka membangun peradaban dan mencemari setiap sudut alam. Air, tanah, udara, bahkan cahaya pun tercemar, membuat langit malam tak lagi bisa menampakkan bintang-bintang.

 

Tapi dari atas sini, aku takjub bahwa orang-orang itu, di setiap malam tanpa pernah berhenti, menyalakan berjuta-juta cahaya secara bersamaan. Dari ketinggian ini aku melihat dan menyadari, bahwa mungkin saja mereka telah mencemari cahaya dan membuat bintang-bintang tak lagi tampak dari bawah sana,

tapi dari atas sini terlihat jelas bahwa mereka telah membuat bintang-bintang mereka sendiri.

 

Jika kau telah lelah menunggu langit untuk memudar bersih dan menanti sinar bintang untuk dibagi,

 

Mendakilah,

 

Naiklah ke atas, dengan semangat seolah kau ingin memprotes langit mengapa tak kunjung ada sinar bintang yang mereka bagi,

 

Kemudian jika kau telah berjalan cukup jauh dan tinggi hingga tak ada lagi tanah yang bisa kau tapak, mungkin kau telah berada di salah satu puncak bukit atau gunung. Tunggu hingga malam hari dan tengoklah ke bawah, maka kau akan melihat bahwa bintang tak hanya menggantung bertaburan di langit, tapi ia juga bertebaran di tanah rendah, diciptakan olehmu sendiri bersama jutaan manusia lain.

 

Gemerlap sinar sinar bintang buatan yang tak kalah indah.

***