Masih 3 minggu yang lalu saya mendarat di kota elok yang dulunya adalah ibukota Nusantara, sebelum pindah ke Batavia. Lalu menumpang kapal selama 14 jam, setengah hari semalam, ke daerah dengan sinyal padam. Setibanya di kabupaten tujuan, kami melanjutkan perjalanan hingga 6 hari ke depan, mengunjungi sekolah-sekolah di bagian pulau tepian. Bertemu pantai terindah dan menahan terik yang membuat tak betah, menghabiskan waktu di tengah laut sampai sinar matahari surut, menyeberangi selat berbahaya yang konon bak segitiga bermuda, bertemu para penggerak yang berbagi cerita bijak, dan merasakan keramahan lokal di balik jalan-jalan terjal.

 

Ini adalah cerita dari Kepulauan Sula.

***

 

Awal Oktober lalu saya mendapat kesempatan langka untuk mengunjungi kabupaten Kepulauan Sula, membantu Indonesia Mengajar melakukan asesmen daerah. Langka, sebab asesmen daerah adalah kegiatan yang hanya dilakukan 5 tahun sekali, ketika IM telah genap merampungkan misi 5 tahunannya di daerah yang lama dan berburu daerah baru untuk menempatkan Pengajar Muda. Jadi misi yang kami bawa ketika itu jelas: berkeliling daerah menemui stakeholders pendidikan, mengamati dan mengulik data keadaan, menemukan sekolah dan desa terbaik di mana program IM bisa berjalan, dan PM bisa berlatih kepemimpinan.

 

Saya berangkat dari Jakarta bersama kak Ayu Apriyanti, Manajer Divisi PM & Talent IM, menggunakan pesawat pukul 1.10 dari bandara Soetta. Karena shuttle bus yang akan saya tumpangi dari Blok M tidak beroperasi sampai tengah malam, saya menumpang bus sekitar jam 7 malam, dan tiba di terminal 3 terlalu cepat. Literally 4 jam terlalu cepat, saya menghabiskan waktu menulis satu review ini (maaf, hehe). Sampai sekitar jam 12 kak Ayap tiba, kami check-in dan menuju gate 22 yang malangnya berada di ujung jauh terminal, 30 menit berjalan. *Tapi karena kali terakhir saya terbang dari terminal 3 adalah tahun lalu sebelum pembangunan besar-besaran selesai, saya jadi bisa menikmati megahnya terminal baru, lengang di tengah malam.

 

Mengenai lokasi Kepulauan Sula, apabila kita menyapu pandang peta Indonesia dari ujung ke ujung, pulau ini mungkin mudah terlewatkan. Mungil jika dibandingkan Sulawesi dan Maluku di sisi barat dan timur lautnya, Kepulauan Sula terdiri dari dua pulau utama yang menyerupai pistol menghadap ke kiri. Melakukan zooming in (atau magnifying) ke kepulauan mungil tersebut dan berada langsung di sana, seperti menelisik sebuah cawan petri berisi sampel biologi melalui mikroskop lalu mengecilkan diri hingga bisa hadir di tengah-tengah jaringan selnya (bahasa Inggris: culture), dan berada di Sula adalah hadir mengamati budayanya (pun intended).

 

Kepulauan Sula terdiri dari dua pulau utama: pulau Sulabesi yang melintang dan pulau Mangoli yang membujur, dengan ibukota Sanana terletak di pulau Sulabesi. Dari total 6 hari berada di sana, kami menghabiskan 3 hari berkeliling Sulabesi dengan mobil dan motor, dan 3 hari 2 malam lainnya berkeliling Mangoli menggunakan speed boat.

 

Merasakan berada di sana selama seminggu adalah sebuah kemewahan sekaligus kesederhanaan, dan jika boleh saya membocorkan kutipan epilog serial ini di sini, tulisan refleksi ini punya akhir seperti ini:

 

Saya tak bilang bahwa ini adalah perjalanan yang mengubah hidup. Tapi jika ada rangkaian pengalaman yang pada akhirnya berlaku demikian pada saya, perjalanan ini saya yakin adalah salah satu di antaranya.

*

 

Hari 0 – Mendarat di Negeri para Raja

Setelah lebih kurang 3 jam perjalanan, ini adalah pemandangan pertama yang menyambut kami, beberapa menit sebelum mendarat.

Ternate. Kata Kak Ida (@nursidayaru) yang asli Ternate, kota ini punya julukan Negeri para Raja. Sementara kata seorang blogger lain, Ternate dari atas seperti bisul-bisul indah di kulit bumi. Well, karena bisulnya memang seindah dan sekaya ini, saya sama sekali tak keberatan ia dijuluki Negeri para Raja. *Pelajari Kesultanan Ternate dan Tidore.

 

Pesawat kami tidak mendarat langsung di Kepulauan Sula, tetapi di kota Ternate. Sebab perbedaan 2 zona waktu dari Jakarta dan kami terbang melawan arah rotasi, kami tidak tiba pukul 5 setelah 3 jam terbang, tetapi sekitar pukul 7. Untungnya hanya sesekali melompati zona waktu tak akan membuat jet lag.

 

Dari Ternate, kami baru akan melanjutkan perjalanan ke Sanana, Kepulauan Sula menumpang kapal jam 3 sore. Sembari itu, di bandara Sultan Baabullah kami diterima oleh salah satu staf Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Sula yang sedang pulang ke rumah di Ternate, kak Eka. Kami diajak singgah ke rumah beliau sebelum berangkat ke pelabuhan, beristirahat sejenak dan merapikan diri.

 

Rencana semula, kami punya agenda untuk menemui Bupati Kepulauan Sula di Sanana. Tapi begitu mendarat di Ternate kami mendapat kabar bahwa beliau juga tengah berada di Ternate, sedang menunggu pesawat sore hari untuk terbang ke Jakarta. Kebetulan yang baik, sebab kami juga sama-sama memiliki waktu sampai sore di Ternate sebelum mengejar kapal. Maka kami membuat janji, dan beliau bersedia meluangkan waktu untuk bertemu di hotel Grand Dafam tempat beliau menginap.

 

Bapak Hendrata adalah Bupati Kepulauan Sula sejak awal 2017. Kami bertemu beliau selama hampir satu jam, menjelaskan agenda asesmen dan rencana program IM di Kepulauan Sula. Dalam kesempatan itu beliau juga bercerita cukup banyak mengenai kondisi kabupaten Kepulauan Sula dan program-program yang beliau canangkan. Yang berharga bagi kami ketika itu adalah beliau menyatakan bersedia untuk membantu kami selama melakukan asesmen di Kepulauan Sula, termasuk menghubungkan kami dengan Dinas Pendidikan Kabupaten yang beliau pimpin.

 

Setelah bertemu Bupati, kami kembali ke rumah kak Eka untuk bersiap-siap. Ia dan suaminya juga akan kembali ke Sanana, jadi rombongan kami menjadi empat orang. Setelah makan siang dan berpamitan, sekitar jam 3 sore kami berangkat menuju pelabuhan kota Ternate.

*

Sebenarnya ada 2 alternatif untuk menuju Sula dari Ternate. Menggunakan kapal yang lama perjalanannya 14 jam ini, atau menggunakan pesawat Susi Air yang bisa tiba dalam 2 jam, dan lebih murah. Menggunakan kapal, per penumpang dikenakan biaya sebesar 300.000 rupiah, menerima satu porsi makan dan sehelai kasur. Sedangkan untuk yang ingin menyewa kamar, dikenai biaya 600.000 rupiah untuk kamar dengan dua kasur bertingkat. Tapi kapal berangkat 2 – 3 kali per minggu, sedangkan pesawat harus booking dua minggu sebelumnya, itu jika beruntung. Maka pada pukul 5 WIT kapal kami pun bertolak ke Sula.

 

Berbeda dengan di Jawa, menjelang pukul 6 WIT di Ternate ternyata relatif masih terang. Jadi saya sempat menangkap beberapa pemandangan bagus dan saya abadikan di kamera ponsel saya. Termasuk panorama ikonik di muka belakang lembar seribu rupiah berikut:

Agaknya tak berlebihan (buat saya) jika saya bilang saya tak bisa berkata-kata melihat indahnya perairan Ternate. Dalam satu frame: gunung, laut, langit, pantai, awan, perahu, ditambah pelangi. Bahkan saya tak bohong seharusnya di frame ini juga ada pasangan lumba-lumba berlompatan, hanya saja kamera dan tangan saya tak cukup cepat menangkap. *Sedih.

 

Please salahkan saya jika saya gagal menceritakan betapa menariknya tempat ini. Jika saya gagal, itu hanya karena saya yang kurang pandai berkisah, pun mungkin kurang pandai mengambil gambar dengan kamera ponsel yang  “wah”.

 

Gambar di atas adalah foto terakhir yang saya ambil dari Ternate di hari pertama sebelum langit jadi gelap.

Lalu matahari tenggelam genap, di cakrawala barat menancap. Malam pun menyergap, laut hitam kemanapun menghadap, beberapa lampu geladak mulai gemerlap, menyala bertahap.

Tak ada lagi gambar untuk ditangkap, pekerjaan untuk digarap, catatan untuk direkap, makanan untuk disuap, kudapan untuk disantap, lawan bicara untuk bercakap. Hening tanpa suara orang-orang berucap, hanya suara ombak untuk disadap, dari lantai bawah sampai ke atap.

Udara malam juga mulai lembap meresap, dengan sedikit campuran rokok berasap dari mereka yang sedang mengisap. Beberapa penumpang mulai tidur tiarap, meskipun panas dan peluh untuk diusap.

Kapal yang kami tumpangi melaju dengan sigap, deru mesin terdengar karena badan kapal yang tak kedap, keras seperti mobil balap, semoga selamat saya harap.

Mulut saya mulai menguap, mata mengerjap, kantuk meluap, hinggap merayap. Maka saya kembali ke kamar tempat saya menginap, di kasur saya terjerembap, meraih bantal untuk didekap, berselimut baju rangkap, dan berusaha tidur lelap.

*

Esok paginya saya bangun terkesiap, menyadari perjalanan berangkat kami sudah lengkap. Kami tiba di Kepulauan Sula dengan siap.

 

[Bersambung ke Bagian 2]