Minggu pagi-pagi (27/08) saya sudah berangkat menuju Bogor sambil menenteng longboard yang saya bawa dari kantor Senbaw. Sebagian latar langit masih oranye ketika saya menuju stasiun, dengan matahari mulai naik dari balik gedung-gedung tinggi di daerah Kuningan. Satu lagi kebahagiaan yang agaknya tak terlalu mahal: jalanan Jakarta yang tidak macet, dan kereta yang tidak terlalu padat.

*

 

Hari sebelumnya, saya datang ke wisuda senior saya dari FEB UI. Acara berlalu seperti biasanya kita merayakan wisuda teman baik: menunggu wisudawan keluar, berdesak-desakan mencari satu sama lain, seserahan buket bunga atau kado, foto-foto di sudut ikonik kampus, lalu ditutup dengan makan bareng kemudian pulang.

 

Yang saya tidak tahu adalah, ternyata di wisuda yang sama hadir teman saya sewaktu masih di Malang. Sama sekali tak pernah dekat, bahkan selama 4 tahun terakhir tak sekalipun berkabar, tapi sempat tergabung di satu forum diskusi yang sama. Agak kaget waktu malam harinya saya lihat di WhatsApp Story, kami sama-sama mengunggah foto dengan lokasi yang sama di lapangan Rotunda dengan latar belakang rektorat UI.  Ternyata dia datang untuk wisuda temannya yang juga dari FEB UI, tapi berbeda jurusan.

 

Singkat cerita setelah meng-update kabar satu sama lain, kami mengagendakan bertemu untuk cerita lebih panjang.

*

 

Kami bertemu sambil mengunjungi dua tempat: Kebun Raya Bogor dan Museum Nasional Indonesia. Itinerary yang agak aneh memang, kenapa harus dari selatan Jakarta kemudian dilanjut ke ujung utara. Tapi kami tetap berangkat ke sana sebab masing-masing dari kami mengajukan satu tempat yang belum pernah didatangi, dan memutuskan untuk mengunjungi dua-duanya. Sepagian di Bogor, dijeda makan siang menghadap 180 derajat pemandangan gunung Salak, sore di Museum Nasional, dan sebelum jam 7 kami sudah berpisah sebelum saya pulang dan mampir ke daerah Kalisari terlebih dulu.

 

Ada cerita bagaimana siangnya saya berguling jatuh di aspal kota Bogor. Singkatnya, saya sedang bermain longboard di jalanan panjang lurus menurun di komplek Kebun Raya. Sampai kira-kira papan luncur saya melaju terlalu kencang sementara saya belum mahir untuk langsung berhenti, tiba-tiba ada anak kecil berlari menyeberang, lantas saya refleks melompat sambil membuang-belok papan ke kiri. Bodohnya adalah saya tidak menggunakan pelindung apapun. Dan namanya inersia bekerja, jatuh lah saya dengan sisi kanan badan mencium aspal. Hasilnya, masing-masing dua luka selebar koin 500 perak di siku dan lutut kanan, serta memar di bahu. Hampir seminggu saya kesulitan naik tangga dan makan atau mengetik dengan lengan kanan, tapi sudah jauh lebih baik hari ini.

 

Cerita kesialan saya yang itu tidak penting. Tapi cerita tentang teman yang saya temui ketika itu yang penting.

*

 

Staf Ahli Pembangunan Masyarakat

 

Namanya kak Alfa –genderless, bukan nama sebenarnya. Sejak lulus dari jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Brawijaya 2015 lalu, dua tahun terakhir ini dia bekerja sebagai Staf Ahli di Kemendes PDTT (Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi). Spesifiknya adalah Tenaga Ahli di Direktorat Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa.

 

That was a really big deal for me, and it goes back to years ago when I was a SHS student.

 

Ketika saya SMA dan sedang giatnya menentukan pilihan rencana kuliah dan cita-cita, dalam forum-forum diskusi dan bimbingan saya diajari dan belajar tentang prinsip karir yang ideal: bahwa karir yang baik adalah karir yang membangun lingkungan & masyarakat. Karir yang punya makna, bukan karir biasa untuk menjadi kaya. Karir semacam itu dicontohkan oleh semua tokoh pemimpin dan pembawa perubahan yang ada dalam sejarah mereka yang bekerjanya bukan untuk kekayaan, tapi kemajuan.

Bertahun-tahun kemudian sampai sekarang, pelajaran itu masih saya lekatkan di benak, berusaha mencontoh. Menjadi alasan yang sama kenapa saya bergabung dengan Indonesia Mengajar sambil melanjutkan kuliah.

Dan teman saya tadi juga belajar hal yang sama, semasa kuliah. Di lingkaran belajar kami ketika itu, kami mencita-citakan bisa belajar dan bekerja di sektor-sektor masyarakat, sambil berusaha membangun di sana. Harapannya tempat itu adalah di pemerintahan, sebab bidang itu memiliki pengaruh yang efektif ketika berbicara tentang upaya perubahan, pembangunan. Kami menamai rencana itu sebagai karir Pembangunan Masyarakat (PMT).

*Belakangan, lingkaran tempat saya berorganisasi yang baru ternyata juga tak jauh-jauh dari istilah PM itu. Di Indonesia Mengajar, PM adalah singkatan dari Pengajar Muda, sebutan untuk mereka yang sedang ditempatkan di berbagai pelosok Indonesia untuk memfasilitasi (no pun intended) pembangunan masyarakat di daerah, di bidang pendidikan. Literally kepanjangan PM bagi mereka boleh jadi tak cuma Pengajar Muda, tapi juga Pembangun Masyarakat. Hal ini trivia, tapi buat saya ini nostalgia.

 

Pendeknya, saya dan senior saya ini dulu belajar hal yang sama agar kelak ketika lulus bisa memiliki karir Pembangunan Masyarakat, dan kalau bisa, di pemerintahan.

 

Dan 4 tahun berselang sampai akhirnya kami bertemu lagi, ternyata orang ini boleh dibilang is living the dream, bekerja di Kementerian yang bidang kerjanya literally adalah Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat. *I don’t care if I sound too excited, that’s the very energy that’s driving me writing this, and I think I still can’t get enough with it. Haha

*

 

Cerita Suka Duka

 

Kembali ke cerita tentang teman saya tadi.

 

Cerita bagaimana dia bisa nyangkut dan diterima-bekerja di kementerian di Jakarta segera setelah lulus, ternyata juga menarik. Singkatnya cerita, dia ‘dibawa’ oleh salah satu dosen pembimbing skripsinya di semester akhir ketika itu, yang juga adalah guru besar di FEB UB, ketika beliau diangkat menjabat Direktur Jenderal di Kemendes. Dari ceritanya, dia mendapat rekomendasi dari beliau untuk mengikuti rekrutmen Tenaga Ahli di beberapa kantor pemerintah di Jakarta, salah satunya di DPR yang tidak berhasil sebab belum memenuhi kualifikasi pendidikan (S2), hingga akhirnya diterima di Kemendes.

 

Saya pikir hal semacam itu sama sekali bukan keberuntungan.

 

Sekarang ini jadi sarjana agaknya sudah bukan hal yang luar biasa. Kita tahu hari ini ada fenomena banyak sarjana menganggur, atau setidaknya sangat kesulitan memeroleh pekerjaan. Maka jika dibandingkan dengan fenomena tersebut, tentu bisa dibilang teman saya tadi punya nasib yang begitu baik, bisa diterima bekerja segera setelah lulus, di bidang yang sesuai dengan jurusan pendidikan, serta di tempat yang sangat bagus untuk ukuran pekerjaan pertama.

 

Tapi sekali lagi, saya pikir hal semacam itu sama sekali bukan keberuntungan. Sebab saya yakin nasib sebaik itu jika itu bisa disebut nasib, tak akan datang ke yang bukan orang baik-baik. Persis seperti karma buruk akan jatuh ke orang yang berbuat buruk, karma baik pasti jatuh ke orang baik-baik. Bayangkan saja, tawaran untuk bekerja di pemerintahan Jakarta tentu tak akan datang in the first place kalau teman saya tadi tak baik-baik ketika kuliah, skripsi akhir, sampai akhirnya potensinya ditemukan oleh beliau profesor tadi. Keren.

*

 

Minggu pagi itu kami menghabiskan waktu hampir 4 jam mengobrol sambil berkeliling Kebun Raya. Meng-update kabar-kabar yang terlewat selama bertahun-tahun, kabar teman-teman kami yang lain, yang sedang di UGM, yang sedang di UB, dan yang juga sedang di Jakarta. Tapi yang juga menarik menurut saya adalah ‘curhatan’ tentang suka-dukanya bekerja di Kemendes. Yang membuat saya tahu bagaimana dinamika di satu sudut institusi pemerintahan pusat, cerita dari tangan orang pertama.

 

Saya tak akan bercerita mendetail, tapi secara umum pekerjaannya sebagai Staf Ahli melibatkan proses penyusunan dan implementasi program-program di Kementerian, spesifik di Dikjen di mana dia tergabung. Hal ini termasuk bagaimana, dari ceritanya, timnya mengadopsi konsep-konsep pembangunan dari luar negeri, dari banyak karya-karya penelitian, untuk dirancang dan diterapkan di Indonesia; bagaimana menyusun dan merumuskan anggaran-anggaran program tersebut untuk diajukan ke pejabat terkait; bagaimana berkoordinasi dengan kementerian dan institusi pemerintahan lain dalam proses perumusan dan pengelolaan program; bagaimana proses lelang pengadaan dan pelaksanaan program jika sedang tidak dikelola dari internal sendiri; juga bagaimana dia banyak ditugaskan untuk melakukan perjalanan dinas ke banyak desa indah (?) di Indonesia untuk mengumpulkan data atau laporan terkait program yang sedang dikelola.

 

Untuk poin yang terakhir, di IM sebagai NGO di mana saya sedang membantu, program-programnya juga banyak berurusan dengan para Pengajar Muda yang sedang ditempatkan di ratusan desa di Indonesia, and to that we can relate to each other at some points, at some stories.

 

Tapi tak semuanya memang cerita suka, ada juga cerita-cerita yang tak terlalu menyenangkan. Seperti ketika dia yang sempat bekerja lembur selama berhari-hari untuk menyelesaikan rencana program, tapi akhirnya anggaran program tersebut gagal ketika dirapatkan. Dalam bahasa ceritanya, pengalaman seperti itu “membuat sedih, ketika kita sudah berusaha keras untuk merencakan sesuatu yang baik untuk rakyat banyak, tapi harus digagalkan”.

 

Dari yang saya pahami, kejadian semacam itu pasti ditemui, sebab yang namanya bekerja di pemerintahan pasti akan menghadapi banyak dinamika politik, urusan saling atur kepentingan. Dan hal ini juga yang menjadi salah satu cerita kurang menyenangkan yang lain. Karena Kemendes bekerjanya berkoordinasi dengan salah satu Komisi di DPR, dan DPR adalah lembaga yang punya kewenangan mengesahkan anggaran, di tingkat teknis ada saja anggota dewan dari Komisi dimaksud yang meminta agar Kemendes memprioritaskan program untuk wilayah Dapil yang mendukungnya. Sebenarnya jika bersangka baik, hal seperti itu tentu wajar jika anggota dewan memprioritaskan agar program pemerintah mengutamakan daerah yang dia wakili; tapi jika bersangka yang lain, ada kasus-kasus di mana anggota dewan datang ke daerah berbarengan dengan penyaluran program dari pemerintah lantas mengklaim program tersebut adalah hasil kerjanya, padahal anggota dewan yang notabene dari lembaga legislatif tak banyak punya kewenangan eksekutif, meski ada. Tentu sangat disayangkan jika kerja keras Kementerian tertentu harus berujung menjadi modal pencitraan dari pihak lain untuk mengumpulkan dukungan.

 

Saya tak punya keahlian untuk berkomentar di bidang ini, tapi semoga yang benar adalah sangkaan yang baik.

*

 

Dari cerita-cerita teman saya itu, saya banyak sekali belajar. Dan saya harap saya masih bisa terus mendengar pengalamannya untuk belajar. Dari yang sudah banyak bertemu menteri-menteri, rapat-rapat dan berkoordinasi, sampai ada cerita lucu di mana di salah satu rapat dia dikira seorang asisten padahal dia berbicara mewakili Kementerian yang ini belum sempat saya selipkan di cerita di atas.

 

Bagaimanapun, dia sudah jauh lebih banyak mengalami, dan saya harus lebih banyak mempelajari.

 

Di luar itu semua, saya pikir apa yang dia kerjakan keren sekali. Menantang, dan secara bersamaan punya impact yang besar, secara langsung. Sebuah pekerjaan yang tak cuma layak disanjung, atau didukung, tapi juga kalau bisa ikut diusung.