“Menulis itu menyenangkan sekali!”

 

Pagi itu hari Rabu. Aku ingat karena waktu itu aku memakai seragam putih biru di kali pertama minggu itu. Atas kemeja putih lengan pendek, dengan dasi menyilang di dada, dan celana biru pendek selutut.

Kelas 4 di sekolahku waktu itu hanya satu kelas, tidak ada IV-A atau IV-B, sebab terbatasnya ruang kelas di sekolahku waktu itu. Alhasil, III-A dan III-B menjadi satu kelas selama 2 tahun kemudian, IV -saja, dan V -saja.

 

Kelasku selama 2 tahun itu memang kelas paling besar di antara ruang kelas yang lain. Tapi dengan 56 anak menjadi satu kelas, cukup mudah dibayangkan bagaimana suasananya.

 

*Singkat saja ya pembukanya. Maaf nggak nyambung.

 

Jadi Rabu pagi itu, pak Kepala Sekolah sekaligus guru Matematika kami (selama 3 tahun) datang seperti biasa. Tanpa membawa apapun seperti guru-guru lain, tanpa map, tanpa buku, tanpa tas lain, seturun dari memarkir motornya di sebelah ruang guru (tidak ada halaman parkir dan ruangan khusus kepala sekolah di sekolahku waktu itu) langsung bergegas ke kelasku. Beliau masuk, berjalan dengan wibawanya seperti biasa, dalam diam.

 

Setelah mengucapkan salam, beliau mengambil kapur tulis (sekolahku waktu itu menggunakan kapur untuk menulis di papan tulis) lalu menulis tiga buah soal Matematika di depan. Dua soal yang pertama hanya berupa 2 kalimat pendek untuk dipecahkan. Maksudku, soal nomor satu berupa persamaan Matematika pendek untuk dilengkapi, sedangkan soal nomor dua berupa soal cerita. Sedangkan soal ketiga menggunakan gambar segitiga sama sisi yang bagian dalam masih ditambah garis-garis lagi yang saling silang dengan ujung-ujungnya meraih sisi dan sudut segitiga sama sisi tadi.

 

Aku diam saja mengamati beliau menulis. Seperti semua temanku (tentu saja). Pembawaan beliau yang diam ketika tiba di kelas pagi hari memang sudah seperti biasa. Tapi teman-temanku tahu, beberapa menit setelah beliau mulai berbicara dan mengajar, sekelas akan tertawa-tawa mendengarkan lelucon yang ia selipkan di sela-sela materi yang dibawakannya. Tapi pagi ini berbeda. Ia menulis 3 soal itu, lalu membalikkan badan kepada kami semua yang bengong dan bingung, dan sebelum meletakkan kapur tulis lalu pergi ke kantor selama beberapa menit kemudian, beliau berkata kepada kami semua dengan ekspresi datar,

 

“Kita ulangan. Keluarkan kertas kosong. Tulis nama, absen dan kelas. Kerjakan 3 soal ini. Waktunya 1,5 jam. Tidak ada yang boleh nyontek. Saya ke kantor saya sebentar.”

 

***

 

“Aku suka sekali Matematika!”

 

Waktu itu, dari 2 tahun sebelum itu, sampai 5 tahun setelah itu, aku suka sekali mengucapkan itu. Mungkin pengecualian saja di hari Rabu waktu itu.

 

“Sialan! Soal ini sulit sekali!” kataku dalam hati sambil menggerutu. Keringatku bercucuran, padahal di desaku pada jam seperti itu cukup dingin, dan tadi pagi tidak ada senam pagi, jadi tidak ada alasan untuk berkeringat.

 

Kecuali ulangan Matematika dadakan ini.

 

Biar kugambarkan bagaimana 1 jam ulangan itu berlalu. Karena 1 jam lewat 1 menit lah pak Guru tadi baru masuk kembali ke kelas.

 

00:00 – 00:30

Semua anak menulis ulang soal di papan tulis di kertas masing-masing. Lalu membaca soal satu per satu. Soal 1, soal 2, soal 3. Lagi. Soal 1, soal 2, soal 3. Lagi, dan lagi. Bingung mau mengerjakan yang mana dulu. Lalu satu per satu mulai gerah. Kening berkerut, kepala semakin menunduk.

 

00:31 – 00:40

Beberapa anak diam-diam mulai mengeluarkan buku catatannya, membuka-buka halamannya satu per satu. Membaca. Lalu membaca ketiga soal tadi. Lalu kembali ke buku. Lalu ke soal. Lalu ke buku. Menulis sebentar. Kembali ke buku. Lalu berhenti. Sepertinya usahanya sia-sia. “Haha, tentu saja! Kalian pikir ini bab-bab kemarin?”

 

00:41 – 00:45

Khasku waktu itu, aku selalu menyiapkan kertas kosong lain di luar kertas ulangan untuk menulis-nulis sesuatu selama ulangan. Namanya Kertas Coretan. Dan di menit 41 itu, kertasku masih tercoreti setengah halaman. Tidak seperti biasanya. Aku bingung. Seperti buntu. Lalu melamun, dan melakukan hal aneh: melipat-lipat kertas tadi beberapa saat. Lalu tiba-tiba ada sebuah pesawat kertas di tangan kananku siap untuk diterbangkan.

 

Maka kuterbangkan.

 

00:46 – 01:00

Anak-anak lain, yang mulai gaduh karena pusing atau bertanya-tanya ke sebelah, terdiam melihat pesawatku melayang-layang di langit-langit kelas. Dan kebetulan memang langit-langit kelasku waktu itu cukup tinggi dan luas. Dan kebetulan lagi, pesawat kertas buatanku waktu itu ternyata terbang bagus sekali! Ia terbang pelan. Setelah kulemparkan ke depan, (bermaksud ke arah 3 soal di papan tulis) tapi ternyata ia terbang pelan, berputar hampir lingkaran sempurna di atas kepala-kepala yang melongo, lalu jatuh hampir tepat di atas mejaku! Wow!

 

Reaksi teman-temanku yang lain sangat tidak kuduga (aku memang tidak menduganya). Beberapa menit kemudian, 7 pesawat kertas hasil buatan cepat teman-temanku beradu terbang lama dan ‘enak’ di langit kelas kami waktu itu! Semua anak seakan lupa dengan apa yang sedang mereka kerjakan (dan harus selesaikan). Banyak anak menengadah melihati pesawat-pesawat kertas yang terbang bersamaan berputar-putar tak tentu arah dan menukik-nukik liar di atas mereka. Banyak dari mereka merekah senyum lebar, dan tidak sedikit yang berdiri, lalu berusaha menangkapi pesawat yang terbang di dekat mereka.

 

Aku pun tidak ketinggalan. Aku juga melempar pesawatku sehebat mungkin untuk mengalahkan pesona pesawat-pesawat kertas yang lain. Tapi tiba-tiba ada temanku yang berdiri, dengan ekspresi penuh seru, berteriak sambil ditahan (bisa membayangkan?), “Ada Pak Guru! Ada Pak Guru! Pak Guru datang!”

 

Lalu semua berusaha mengatur tempat duduk, merapikan pesawat-pesawat kertas tadi. Dan semua menjadi lain.

***

 

(Catatan: kelasku memiliki jendela-jendela tinggi dan meliputi seluruh bagian samping dinding, dengan kaca cerah transparan dan tanpa tirai. Sedangkan kantor guru hanya berjarak 10 meter dari kelasku)

 

 

Lalu beliau masuk kelas dengan langkah lebih cepat dari biasanya. Masih mengenakan baju tadi (jaket bepergian masih belum dilepas), tapi dengan ekspresi yang lebih dingin. Berdiri di depan kelas menghadap kami, kaki terbuka lebar dengan gagah, tangan di belakang, dan mulai berkata,

 

“Siapa yang membuat pesawat kertas tadi!?”

 

Dengan gerakan lambat dan lamat, aku mengangkat tangan. Tapi tidak dengan kepala.

 

“Yang lain?” Teman-temanku ikut bergidik.

 

“Semua yang ikut membuat dan memainkan pesawat-pesawat kertas tadi, maju!”

 

Lalu kami bersepuluh maju. Berbaris bersaf di depan kelas, menghadap ke yang lain, dengan kepala tertunduk, lalu mulai diinterogasi.

 

“Siapa yang memulai tadi!?”
“Saya, Pak..” aku menjawab sambil tertunduk.

 

“Kalian ini sedang apa? Ulangan.. Memangnya pekerjaan kalian sudah selesai?”
“Belum, Pak..” semua menjawab bersamaan, pun dengan kepala tertunduk.

 

“Lalu kenapa malah main-main!??”

 

Diam.

 

Lalu beliau berjalan memutari barisan kami. Setelah berdiri di belakang kami, apa yang kemudian terjadi? Ia menendang pantat kami satu per satu dengan sepatunya yang besar dan berujung keras! Beberapa anak yang kaget dengan tindakan itu sampai terpental maju beberapa langkah. Aku pun begitu.

 

Sempat terdengar beberapa cekikian di pojok, tapi disahut dengan teguran “sst” untuk diam, maka diam.

 

Lalu beliau melanjutkan, “Kumpulkan kertas jawaban kalian di meja guru! Apapun hasilnya! Lalu ambil selembar kertas, buat satu pesawat kertas dari itu, dan terbangkan di halaman sampai bel istirahat berbunyi! Yang lain tetap mengerjakan sampai jam pelajaran Matematika selesai!”

 

Kami pun keluar, dengan tertunduk-tunduk.

 

Setibanya di halaman, kami berdelapan benar-benar bermain pesawat kertas! Adu lama terbang, dan adu jauh terbang satu sama lain dengan pesawat kertas buatan masing-masing. Kadang-kadang tertawa.

 

Tertawa aneh.

 

Karena aku tahu sendiri, tertawa bukan karena lucunya adu pesawat kertas waktu itu, tapi menertawakan diri sendiri yang dengan bahagianya meninggalkan ulangan Matematika untuk bermain pesawat kertas dan pantat ditendang dengan sepatu berujung besi.

 

 

*credit image: skypeoplemalta.com