Jika kau tak percaya bahwa kereta api itu bernafas,

setidaknya aku percaya bahwa dalam tiap saat aku dikandungnya,

aku merasa hidup di dalamnya.

Aku juga merasakan kehidupan, di sana…

 

Sejak sekolahku pindah di luar kota, aku menghabiskan hampir selalu berkereta dua kali dalam seminggu. Singkat cerita –aneh sekali aku sedang tak ingin berbelit-belit, aku punya banyak cerita darinya. Atau jika boleh kusebut, aku belajar banyak dari kereta api. Tapi kadang, jika mengingat-ingat puluhan perjalananku selama ini dalam perutnya, aku mendapati diriku sendiri menjadi orang aneh karenanya. Banyak sekali! Mungkin sebuah bisa kubagi.

 

*

 

Hari sekolah dalam seminggu berakhir di Jumat, itu artinya tak ada kelas di Sabtu dan Minggu, yang lalu kuhabiskan seperti kebanyakan anak perantauan yang lain: pulang. Kelas Jumat berakhir jam 5 sore, dan satu-satunya kereta di atas jam itu hari itu ke rumahku adalah jam setengah 7 malam. Satu setengah jam yang kumiliki untuk kembali ke asrama, berkemas, ke stasiun, dan dengan tepat waktu. Itu melelahkan, jika kau tahu di Jumat itu agenda selalu dimulai dari pagi dan baru berakhir bersama selesainya kelas hari itu. Sebagai pelajar normal, seperti yang lainnya, maka seharusnya aku tak pulang dengan kereta terakhir Jumat itu, tapi kereta pertama atau pagi di Sabtu esoknya. Tapi sudah kubilang, aku memang aneh, maka pilihan itu tak kuambil.

 

Selalu, di Jumat sore, ketika kelas sudah berakhir, aku menjadi orang tercepat yang mengisi kuesioner harian, tanda tangan absensi seperti cakar ayam, lalu berlari keluar kelas, menyambar sepatu di luar kelas, memakai ala kadarnya, berlari lagi, mulai sedikit terengah, tiba di asrama, menyambar baju apapun dalam lemari asalkan ada di tumpukan teratas, mengemas komputer secepat mungkin, menyambar jaket, keluar lagi, membanting pintu, berlari lagi, tiba di pinggir jalan raya, mencoba menghentikan angkutan yang lewat sambil tetap berlari karena tak mau membuat percuma waktu dan jarak yang bisa kutempuh, mendapat angkutan umum, masuk, mengetuk-ngetukkan sepatu sepanjang jalan untuk menunjukkan keterburuanku pada pak sopir, memencet bel berhenti, membayar dengan uang paling pas yang kupunya, yang seringnya kubiarkan tanpa kembalian, menyeberang jalan dengan ceroboh, menerobos lampu pejalan kaki, mengeluarkan tiket dari dompet, menggigitnya, sambil masih tetap berlari, tiba di pintu masuk stasiun, menunggu pengecekan tiket masih sambil tetap menggerakkan kaki seperti berlari, langsung menghambur masuk saat pemeriksaan selesai, tiba di peron, berlari di sela-sela calon penumpang, menyusur sambil menoleh-noleh ke segala arah, dan saat kulihat sosok berkacamata sedang bersandar di dinding, menunduk membaca buku sambil menggigit tiketnya, barulah aku berhenti.

 

*

 

Itu dulu.

 

Tapi kemarin, seseorang mengingatkanku, bahwa waktu aku masih sering berlari-lari Jumat sore itu, di sela aku mengatur nafasku yang hampir habis hanya menyisakan hembusan dan tarikan pendek-pendek, setelah menyapa orang itu untuk memberitahukan aku sudah tiba meskipun ia tak peduli, dalam hati aku sering bergumam sendiri,

 

“Jika sudah seperti ini, aku rela kereta kita terlambat 1 hari.”

*credit image: pierre.bodilis.fr