Tentang rencana yang masih jadi wacana
Tentang inginnya impian seberhana tapi masih sederhana
Tentang asmarandana karena tak kunjung beranjangsana
Dan tentang ingin bijaksana tapi tetap lenggana

Elah, fana

Cita-cita kala yuwana, jawabnya bagaimana?
Cita-cita dari bijana, kenapa sekarang di dasar bejana?
Karena repot fatamorgana yang ternyata hanya bencana
Karena repot oleh kirana yang ujungnya jadi gulana

Celana

Selama ini ke mana, baru sadar dunia durjana?
Dari jembrana sampai riuhnya gegana
Dari mariyuana sampai ramai narapidana
Sudah lengkap sekeliling buana, seperti liana

Rebana

Di sana sarjana-sarjana mengejar lencana
Entah berenjana, entah bersasana
Serba semenjana, maunya berkelana
Bikin terpana, ini semua suasana
Semoga di tahana di istana
Sang Brana seorang saujana yang pandai kendana
Bertata lakana menentukan salembana

Subhana

Bantulah orang ini jadi derana, tak apa tak jadi maulana
Sebab sudahlah ini terlalu hana, terlalu lelah di tengah sabana
Sepusing belajar ikebana dari buku bertulis katakana
Sudah rindu singgasana, sudah rindu rabana
Sudah rindu waranggana, yang pandai perirana
Tak apa tak dapat nirwana, karena cukup sehembus pawana
Tak apa jadi jagawana, asal bersama kulasentana

Tak dinyana

Bukan laksana arwana
Tapi berbusana sembari jadi sutradara maharana
Senjatanya bana, tangkainya dari cendana
Dipimpin laksamana, tapi bukan brahmana
Bukan juga mahaparana tapi duduk di padmasana
Di atas wimana dengan mahalnya pelana
Hancur menghancur semua sarana, tiada permana
Pulangnya tak berdana, merana di atas jempana
Tak punya lagi darpana, apalagi puspadana
Sesat di tengah wana, memakan segala begana

Mati di bawah Senjana.